Mengapa Penerbangan di Indonesia Langganan Kecelakaan ?

Mengapa Penerbangan di Indonesia Langganan Kecelakaan ?

Penerbangan di Indonesia, Baru – baru ini Pesawat Sriwijaya SJ 182 menghilang dari peradaran penerbangan, hilang kendali dan ditemukan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

2 tahun silam juga Indonesia berduka untuk jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Berdasarkan data Aviation Safety Network menyampaikan report korban jiwa dalam satu dekade ini ada sekitar 697 korban.

Melihat buruknya sistem penerbangan di Indonesia, pastinya ada membuat sedikit banyaknya rasa trauma serta takut dalam diri kita untuk naik pesawat lokal.

Penasaran apa saja faktor mengapa di Indonesia pesawat sering jatuh ? Yuk simak penjelasannya dibawah !

Faktor Penyebab Mengapa Penerbangan di Indonesia Langganan Kecelakaan !

Mengapa Penerbangan di Indonesia Langganan Kecelakaan ?

  • Standar Keselamatan Belum Memadai

ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) memiliki delapan poin audit untuk memastikan efektivitas dan konsistensi penerapan sistem pengawasan keselamatan penerbangan di suatu negara.

Seharusnya sebuah maskapai boleh beroperasi kalau sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan seperti: peraturan penerbangan sipil, struktur organisasi penerbangan, lisensi personalia, kelaikan pesawat, hingga layanan navigasi udara.

Ada 2 poin dimana Indonesia mendapatkan skor dibawah rata-rata standar penerbangan. Diantara adalah tingkat legislasi alias aturan penerbangan & poin organisasi penerbangan. Sehingga ICAO masih mengharapkan Indonesia untuk meningkatkan standar dalam point perbaikan di sektor aturan dan organisasi.

Cara Memilih Penerbangan Maskapai Yang Aman

Penerbangan di Indonesia

Kebanyakan warga negara Indonesia lebih memilih penerbangan yang murah, tanpa memperhatikan rating keselamatan yang dimiliki oleh maskapai tersebut. Mari memilah maskapai yang sekiranya paling aman di antara maskapai-maskapai lain, nilai rating keamanan terbaik adalah tujuh bintang.

Beberapa maskapai Indonesia yang sudah memiliki ranting bintang adalah: Garuda Indonesia dan Citilink mendapat lima bintang, disusul Express Air dengan 4 bintang, AirAsia Indonesia 3 bintang, dan Sriwijaya Air 1 bintang.

Poin penilaian Airline Ratings selanjutnya adalah hasil audit The IATA Operational Safety Audit (IOSA), ICAO, EU, dan FAA. Jika maskapai lolos semua audit internasional ini, poin keamanan akan bertambah satu bintang.

Namun, audit ini tidak bersifat wajib sehingga ada maskapai yang tidak tersertifikasi karena gagal atau memilih tidak ikut. Dalam penilaian audit ini, hanya Garuda Indonesia dan AirAsia Indonesia yang lolos dan mendapat satu bintang.